News / Read

Harga minyak lebih rendah pada Jumat tertekan penurunan data stok minyak AS

Blog Single

Harga minyak lebih rendah pada Jumat tertekan penurunan data stok minyak AS

Harga minyak mentah menetap lebih rendah perdagangan hari Jumat, karena penarikan dalam pasokan minyak mentah AS diimbangi oleh kenaikan tajam dalam persediaan produk.

Di New York Mercantile Exchange minyak mentah berjangka untuk pengiriman Oktober turun 1,4% dan akhirnya menetap di $ 67,64 per barel, sementara di London Intercontinental Exchange, minyak Brent turun 0,79% diperdagangkan pada $ 76,66 per barel.

Menurut data dari Administrasi Informasi Energi (EIA). Persediaan minyak mentah AS turun 4,302 juta barel untuk pekan yang berakhir 31 Agustus, mengalahkan ekspektasi untuk penurunan 1,294 juta barel.

Penarikan pada data persediaan minyak mentah AS diimbangi dengan kenaikan ringan dalam sektor impor sekitar 0,500 juta barel per hari (bpd), sementara ekspor turun sebesar 0,271 juta bph.

Data Produksi tidak berubah pada 11,0 juta bpd untuk minggu kedua berturut-turut, yang juga mendukung penarikan pasokan minyak mentah.

Persediaan bensin secara tak terduga naik sebesar 1,845 juta barel, meleset ekspektasi untuk pelemahan 0,810 juta barel, sementara pasokan distilat naik 3,119 juta barel, melebihi ekspektasi untuk kenaikan 0,742 juta barel.

Kenaikan pada produk minyak AS didukung oleh aktivitas kilang yang naik menjadi 96,6% dari kapasitas mereka minggu lalu dari 96,3% minggu sebelumnya, dengan input mentah rata-rata sekitar 17,65 juta barel per hari.

Harga minyak juga tertekan oleh kekhawatiran bahwa perang perdagangan AS-Cina dapat meningkat karena para pedagang menunggu konfirmasi apakah administrasi Trump akan bergerak maju dengan menerapkan tarif 25% pada $ 200 miliar lebih banyak barang impor China.

China merupakan pengimpor minyak terbesar dunia, namun melihat dari pelemahan pertumbuhan ekonomi belakangan ini akibat dari sengketa perdagangan dengan AS kemungkinan akan menekan pertumbuhan permintaan minyak.

Pasar juga melihat resiko pasokan minyak dari sanksi AS terhadap industri minyak Iran dan juga kemungkinan gangguan produksi minyak domesti menyusul badai yang terjadi di AS.

Selanjutnya data rig kilang minyak dari Baker Hughes akan dipantau ketat, untuk dapat memperkirakan output AS pada perdagangan.


Share this Post:
Facebook Twitter Google+ Addthis

Related Posts: