AXA Tower lt.32

Kuningan City, Jaksel
}

Senin-Jumat 9.00 - 17.00

Sabtu Minggu libur

AXA Tower lt.32

Kuningan City, Jaksel
}

Senin-Jumat 9.00 - 17.00

Sabtu Minggu libur

Retail Sales (penjualan ritel) sangat dicermati oleh ahli ekonomi dan investor. Indikator ini mengikuti nilai dollar dari barang dagang yang terjual didalam perdagangan ritel dengan mengambil sampel perusahaan yang melakukan bisnis menjual produk akhir kepada konsumen.

Retail Sales (penjualan ritel) sangat dicermati oleh ahli ekonomi dan investor. Indikator ini mengikuti nilai dollar dari barang dagang yang terjual didalam perdagangan ritel dengan mengambil sampel perusahaan yang melakukan bisnis menjual produk akhir kepada konsumen.

Transaksi yang dilakukan di tempat-tempat pembelanjaan atau pasar dan tempat ritel bukan toko (seperti surat katalog dan mesin penjual) digunakan dalam data sampelnya. Perusahaan dari semua ukuran digunakan dalam survei.

Data yang dirilis akan meng-cover penjualan dari bulan sebelumnya, membuat indikator ini memiliki kategori tepat waktu tidak hanya dari kinerja industri penting (konsumsi konsumen secara umum sebesar dua per tiga dari total GDP), tetapi juga aktivitas level harga secara keseluruhan.

Retail Sales dianggap sebagai indikator koinsiden, dimana aktivitas didalamnya mencerminkan keadaan ekonomi terkini. Juga dianggap sebagai sebuah indikator vital pra-inflasi, yang menciptakan minat terbesar dari pengamat pasar dan Conference Review board, yang mengikuti data untuk direktur Federal Reserve Board.

Dirilisnya retail sales dapat menyebabkan volatilitas pasar yang berada diatas rata-rata. Indikator ini dapat digunakan sabagai alat prediksi dari tekanan inflasi dan dapat membuat investor untuk berpikir ulang mengenai kemungkinan The Fed untuk menurunkan atau menaikkan suku bunga, tergantung dari arah trend aset utamanya.

Sebagai gamabaran, kenaikan tajam pada ritel sales ditengah siklus bisnis mungkin akan diikuti oleh kenaikan suku bunga jangka pendek oleh The Fed dengan harapan mengurangi kemungkinan inflasi. Hal ini akan menyebabkan investor untk melakukan aksi jual pada obligasi (menyebabkan nilai yield naik), dan dapat menimbulkan masalah pada saham juga, dengan inflasi menyebabkan menurunnya cash flow masa yang akan datang untuk perusahaan.

Jika pertumbuhan retail sales berhenti atau melambat, hal ini berarti konsumen tidak melakukan pembelanjaan dibandingkan dengan bulan sebelumnya, dan dapat menjadi sinyal dari sebuah resesi karena peran signifikan dari konsumsi individu pada kesehatan ekonomi.

Salah satu hal terpenting bagi investor dalam melihat indikator ini adalah “angka konsensus”. Pada umumnya pasar tidak terlalu menyukai kejutan, jadi sebuah figur yang berada diatas ekspektasi, bahkan ketika ekonomi sedang memiliki kinerja yang baik, dapat memicu aksi jual saham dan obligasi, dengan kekhawatiran inflasi akan berada diatas dari yang diperkirakan.

Perusahaan ritel pun akan bergerak fluktuatif dengan dirilisnya indikator ini. Data yang dirilis akan menunjukkan bagaimana kinerja penjualan dari semua sektor dalam ritel, membuat investor dapat sedikit melihat kekuatan relatif dari sebuah sektor dibandingkan dengan keseluruhan.

Retail Sales termasuk salah satu yang terbesar dari yang terbesar, sebuah laporan yang dapat mengurangi terangnya sebuah ekonomi. Indikator ini menyediakan informasi industri secara ditel dan dapat benar-benar menggerakkan pasar.

Investor mungkin lebih baik menunggu para analis untuk menyeleksi laporannya dengan mengeluarkan komponen yang memiliki fluktuasi tidak wajar, dan mengambil kesimpulan dari hasil seleksi tersebut. Untuk pemegang saham-saham ritel, melihat pertumbuhan sektor dapat menentukan kinerja relatif dari saham-saham tersebut.

Ringkasan:
·    Tanggal Rilis    : Pada atau sekitar tanggal 13 bulan berjalan
·    Waktu Rilis      : 8.30 AM (EST) / 20.30WIB
·    Dirilis oleh       : Census Bureau and the U.S. Department of Commerce
·    Sumber           : http://www.census.gov/svsd/www/advtable.html