AXA Tower lt.32

Kuningan City, Jaksel
}

Senin-Jumat 9.00 - 17.00

Sabtu Minggu libur

AXA Tower lt.32

Kuningan City, Jaksel
}

Senin-Jumat 9.00 - 17.00

Sabtu Minggu libur

Indeks Dow naik, Dow turun, anjlok atau melesat. Berita pasar keuangan tidak akan lengkap tanpa adanya laporan dari harga pembukaan dan penutupan dari indeks pasar saham AS ini. Tetapi walaupun anda seringkali mendengar tengtang Dow Jones Industrial Average (DJIA) bergerak turun atau naik, apakah anda tahu apa yang tercermin dari kenaikan atau penurunan tersebut? Baca lebih lanjut artikel ini untuk mengetahui bagaimana mekanisme kerja Dow, dan apa arti perubahan indeks ini untuk investor dan Indeks Dow naik, Dow turun, anjlok atau melesat. Berita pasar keuangan tidak akan lengkap tanpa adanya laporan dari harga pembukaan dan penutupan dari indeks pasar saham AS ini. Tetapi walaupun anda seringkali mendengar tengtang Dow Jones Industrial Average (DJIA) bergerak turun atau naik, apakah anda tahu apa yang tercermin dari kenaikan atau penurunan tersebut? Baca lebih lanjut artikel ini untuk mengetahui bagaimana mekanisme kerja Dow, dan apa arti perubahan indeks ini untuk investor dan pasar.

Indeks Dow dan Pasar Saham AS
Di pasar modal AS ada tiga indeks pasar saham utama. Indeks saham ini adalah Dow Jones Industrial Average, Nasdaq Composite dan Standard & Poor 500. Secara keseluruhan ketiga indeks ini berfungsi sebagai Security Market Indicator Series (SMIS). Mereka menyediakan sinyal dasar mengenai bagaimana kinerja pasar tertentu pada waktu tertentu pula. Dari ketiga indeks tersebut, DJIA merupakan yang paling banyak dipublikasikan dan didiskusikan. Dan sayangnya, DJIA juga yang paling mudah untuk dihitung dan dijelaskan.

Sejarah DJIA
Dow Jones & Co didirikan pada tahun 1882 oleh Charles Dow, Edward Jones dan Charles Bergstresser. Namun indeks rata-rata pertamanya tidak dipublikasikan di Wall Street Journal melainkan dipesaingnya yaitu Customers’s Afternoon Letter. Awalnya tidak mengikutsertakan saham industrial. Fokus berada pada saham pertumbuhan pada masa itu, mayoritas saham perusahaan transportasi. Hal ini berarti indeks Dow Jones pertama menghitung sembilan saham perkeretaapian, perkapalan dan perusahaan telekomunikasi. Rata-rata harga saham ini akhirnya berevolusi menjadi Rata-rata Transportasi. Sampai pada 26 Mei 1896, Dow dibagi menjadi indeks transportasi dan industrial, yang menciptakan apa yang kita kenal sebagai Dow Jones Industrial Averages.

Charles Dow memiliki visi untuk menciptakan tolok ukur indeks ini untuk melihat kondisi pasar secara umum dan karenanya akan menolong investor dalam melihat kinerja perusahaan. Pada waktu itu, hal ini merupakan ide revolusioner, tetapi implementasinya sangat sederhana. Untuk menghitung indeks Dow Jones hanya dengan menambah harga saham-saham yang ada dan dibagi dengan 11, yang merupakan jumlah saham yang ada dalam indeks tersebut, dimasa itu.

Saat ini, DJIA adalah tolok ukur dari saham-saham Amerika yang dianggap sebagai pemimpin dalam ekonomi dan juga ada di Nasdaq dan NYSE. DJIA meliputi 30 perusahaan dengan kapitalisasi besar, yang dipilih secara subjektif oleh editor Wall Street Journal. Selama ini, perusahaan-perusahaan yang ada di indeks ini telah berubah untuk memastikan tolok ukurnya terhadap ekonomi. Sampai saat ini, hanya General Electric yang merupakan bagian dari sejarah awal indeks ini, yang masih masuk ke dalam DJIA. Lainnya telah berubah-ubah.

Rumitnya DJIA
Seperti yang anda duga, menghitung DJIA saat ini tidak sesederhana seperti dulu dimana hanya tinggal menambah dan membaginya dengan 30. Charles Dow hidup dimasa stock splits dan dividen belum merupakan bagian umum dari pasar, jadi ia tidak melihat hal ini akan bisa mempengaruhi indeksnya.

Sebagai ilustrasi, jika sebuah perusahaan diperdagangkan dengan harga US$100 lalu mengimplementasikan adanya stocks split 2 banding 1, jumlah sahamnya akan berjumlah dua kali lipat dan harga saham per lembarnya menjadi US$50. Ini akan membuat indeks DJIA turun walaupun tidak ada perubahan fundamental pada saham tersebut. Untuk menyerap efek perubahan harga akibat stock split, DJIA mengembangkan Dow divisor, sejumlah angka penyesuaian yang digunakan dalam stock splits yang digunakan sebagai pembagi dalam perhitungan indeks ini.

Bagaimana Mekanisme Dow Divisor?
Untuk menghitung DJIA, semua harga saat ini dari 30 saham yang ada dalam indeks ditambahkan lalu dibagi oleh Dow divisor, yang secara konstan terus dimodifikasi.

Sekarang coba kita ilustrasikan, kita akan membuat sebuah indeks percontohan, namanya Mahadana Learning Average (MLA). MLA terdiri dari 10 saham, yang memiliki total US$1,000 jika semua harga saham ditambahkan. ini artinya indeks MLA akan memiliki nilai 100 (US$1,000/10). Disini indeks pembaginya (divisor) adalah 10.

Misalkan ada sebuah saham yang merupakan komponen MLA yang diperdagangkan di harga US$100 tetapi melakukan stock split 2 banding 1, mengurangi harga sahamnya menjadi US$50. Jika angka pembagi tidak berubah, kalkulasi indeks MLA akan meberikan kita angka 95 (US$950/10). Hal ini akan menjadi tidak akurat karena sebenarnya stock hanya merubah harga, bukan nilai dari perusahaan. Untuk mengkompromi hal ini, kita harus menyesuaikan angka pembagi turun menjadi 9.5. Dengan ini, indeks masih akan ada di angka 100 (US$950/9.5) dan akan lebih memberikan gambaran akurat dari indeks saham MLA.

Konversi DJIA Kedalam Nilai Dolar
Untuk mengetahui bagaimana sebuah saham akan mempengaruhi indeks DJIA, bagi perubahan harga saham dengan angka pembagi (divisor) yang berlaku saat ini. Sebagai ilustrasi, jika saham General Electric naik US$5, bagi dengan 0.14418073, dimana akan menghasilakan angka 34.68. Karena itu, jika indeks DJIA naik 100 poin di hari tersebut, GE menyumbang kenaikan sebesar 34.68 poin.

Metode Penghitungan Indeks
Metodelogi perhitungan indeks Dow Jones dikenal dengan nama metode harga tertimbang. Walaupun bisa menyesuaikan dengan adanya stocks split, kekurangan dari metode ini adalah tidak memberikan cerminan bahwa perubahan US$1 untuk saham dengan harga US$10 lebih signifikan (dalam hal persentase) daripada perubahan US$1 pada saham dengan harga US$100. Karena permasalahan ini, mayoritas indeks besar lainnya, seperti S&P 500, dihitung dengan metode kapitalisasi pasar tertimbang.

Penutup
Walau memiliku kekurangan, DJIA masih merupakan tolok ukur pasar yang paling banyak diamati untuk melihat kinerje pasar saham. Setelah berkelana selama 11o tahun sebagai patokan dari perkembangan pasar besar, DJIA masih merupakan sebuah indeks pasar yang paling dikenali dan diperhitungkan.